Minggu, 16 Maret 2014

renungan anak untuk orang tuanya

Renungan Anak untuk Orang Tua

24 Desember 2012 pukul 23:01
Terkadang tanpa sadar kita melupakan begitu saja  sikap, perbuatan  dan perlakuan kita kepada orang lain atau kepada saudara kita atau mungkin kepada  orang yang berjasa dalam  melahirkan  kita  di dunia ini yaitu  ibu dan  bapak kita. Terkadang kita memperlakukan  ibu kita ibarat seorang pembantu yang dengan entengnya tanpa dosa kita menyuruh  beliau untuk untuk melayani semua kebutuhan, mulai dari mencuci pakaian dan menyiapkan makan. Tanpa kita sadari kerkadang kita membentak dan marah kepada orang tua kita kalau apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan harapan kita pada itu adalah dosa besar.
Bapak dan ibu adalah dua sosok yang seharusnya kita muliakan, kita hormati dan kita perlakukan bak laksana seorang raja dan permaisurinya. Yang kita siap sedia membantu meringankan  beban hidupnya, meringankan pekerjaannya bukan malah sebaliknya kita membuat mereka seolah-olah tak berhenti bekerja. Dikala kita masih dikandungan mereka dengan ikhlas merawat kita, membawa kita kemanapun mereka pergi walupun dengan beban yang sangat berat. Belum lagi   ketika mau melahirkanpun  seorang ibu berjuang antara hidup dan mati untuk bisa melahirkan kita ke dunia ini
Setelah lahir dengan selamat kitapun disambut dengan riang gembira, tanpa merasakan lagi sakit yang amat sangat. Seolah-olah sakit yang baru saja ia rasakan sudah sembuh dengan kehadiran kita. Belum lagi kekhawatiran kedua orang tua kita ketika usia kita menginjak dewasa merekapun dengan susah payah mencarikan uang untuk menyekolahkan kita bila perlu mencarikan lembaga  pendidikan yang favorit atau yang bisa membuat kehidupan kita  lebih baik dari kehidupan yang sedang mereka jalani saat ini.
Bahkan untuk seorang anaknya seorang ibu atau ayah rela untuk mengorbankan semua harta bendanya dikala kita sakit atau  disaat kita membutuhkan  uang  untuk melanjutkan sekolah, mereka dengan rela menjual harta benda yang mereka miliki, agar anaknya bisa menjadi  sukses dan berhasil.
Begitu besar pengorbanan orang tua kepada kita tapi balasan bagi mereka  malah sebaliknya.  Benarlah  apa yang dikatakan   Peribahasa  “ air susu dibalas dengan air tuba”. Ayah dan ibu kita menyayangi kita sepenuh hati tapi kita menyanginya separoh hati.. Padahal kita bisa membalas budi kepada orang tua kita….?!  mana susu yang kita minum yang diberikan oleh ibu kita dengan ikhlas tanpa minta imbalan sedikitpun..?! mana bubur yang selalu kita makan setiap hari, mana baju yang kita pakai setiap hari, mana uang sekolah dan   uang  jajan yang kita pakai untuk kesenangan kita dan mana  ….(masih banyak lagi) yang seandainya bapak ibu kita minta imbalan itu tentu kita tidak bisa membalasnya walaupun dengan uang banyak sekalipun.
Salah satu bentuk kedurhakaan seorang anak terhadap orang tuanya yang sering dilakukan adalah dengan berkata-kata kasar. Padahal Ibu selalu melayaninya kebutuhan kita walau terkadang diluar  kemampuannya dengan  ridha dan ikhlas terhadap anak-anaknya meskipun mereka dalam keadaan sedang sakit.

Marilah dengan kegiatan perkemahan ini  kita tunjukan kemandirian kita, perubahan prilaku kita dari kekanak-kanakan, manja dan ketergantungan menuju pada kedewasaan, bertindak dan bertanggung jawab dan berguna bagi agama bangsa dan negara . ini sebagai pengharapan dari tiga orang tua
Bagi orang tua, anak merupakan harta yang paling bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Oleh karena itu, orang tua melakukan berbagai upaya untuk keberhasilan anak-anaknya, apapun yang dilakukan oleh orang tua pada ujungnya adalah untuk kebahagiaan anak-anaknya. Upaya orang tua untuk keberhasilan anak, mereka rela berkorban jiwa raganya untuk mencarikan biaya dan berdoa siang malam untuk keselamatan dan keberhasilan dambaan hatinya. Disinilah kita perlu memahami perjuangan yang mendalam terhadap pengorbanan orang tua. Dengan jalan perenungan pada saat dimana orang tua sedang beraktifitas dibawah teriknya matahari, dapat kita bayangkan “orang tuanya petani pasti disibukkan oleh ladang dan cangkulnya, guru disibukan oleh murid dan kenakalannya, pegawai pasti disibukkan oleh tugas dan dimarahi atasannya dan orang tuanya pedagang disibukan oleh barang perniagaan dan untung maupun kerugianya.
Jerih payah orang tua yang diperoleh dengan kerja keras tersebut dikirimkan untuk keperluan biaya sekolah, biaya untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan sering sebagian orang tua terpaksa menjual berbagai harta yang dimilikinya untuk mampu membiayai berbagai kebutuhan anaknya untuk melanjutkan pendidikan guna meningkatkan kualitas taraf hidupnya.
Sebagian orang tua tidak mengharapkan apapun dari perjuangan yang dilakukannya, tetapi hanya sebuah kebanggaan baginya karena sudah mampu mendidik anak-anaknya lebih sukses darinya. Walau sebagaian petani, jika anaknya sudah sarjana dan sukses, tetap menjadi petani dan pekerja bangunan pun juga seperti itu.
Oleh karena itu, perjuangan orang tua tentu tidak boleh disia-siakan, karena menyangkut dengan kesuksesan si anak. Orang tua selalu berupaya untuk mendorong anak-anaknya agar selalu sukses. Selain itu jangan sekedar mencari gelar sarjana jikalau tidak memiliki kualitas, tetapi harus menjadi sarjana berkualitas. Sebab selain mampu membahagiakan orang tua juga memberikan manfaat bagi diri sendiri.
Sesungguhnya jasa dan pengorbanan yang telah diberikan oleh kedua orang tua kita kepada kita hingga sekarang ini tidak terhitung banyaknya. Ibu yang mengandung kita selama 9 bulan lamanya, kemudian melahirkan kita dengan mempertaruhkan nyawanya. Ketika kita masih bayi yang tak berdaya, tanpa merasa jijik mereka membersihkan kotoran-kotoran disaat kita pipis dan buang air besar, dengan rasa sabar mereka menghadapi kemarahan, rengekan, dan kenakalan kita serta dengan penuh kasih sayang mereka memberikan kita makan dan minum, dengan penuh cinta kita diberi pakaian dan pendidikan untuk masa depan kita.
Namun, mampukah kita untuk membalas segala pengorbanan yang telah mereka berikan?. Seandainya jika kita merasa kesal dengan mereka disaat mereka sudah tua yang menjadikan kelakuannya kembali seperti anak-anak, dan bahkan seandainya orang tua kita tidak berdaya untuk buang air sehingga kita yang membersihkannya kita mesti harus ingat kesabaran disaat mereka menghadapi dan merawat kita dengan penuh cinta dan harapan agar kita selamat dan panjang umur. Oleh karena itu hendaknya kita harus selalu berbakti pada orang tua kita dan senantiasa mendoakan mereka, agar segala dosa-dosanya yang mungkin pernah diperbuat baik sengaja ataupun tidak supaya mendapatkan ampunan dari Allah SWT.


Waktu kamu berumur 1 tahun

dia menyuapi dan memandikanmu…

sebagai balasannya…

kau menangis sepanjang malam
Waktu kamu berumur 2 tahun
dia mengajarimu cara berjalan…
sebagai balasannya…
kau kabur saat dia memanggilmu
Waktu kamu berumur 4 tahun
dia memberimu pensil untuk mewarnai…
sebagai balasannya…
kau corat coret dinding rumah dan meja makan
Waktu kamu berumur 7 tahun
dia memberikanmu bola…
sebagai balasannya…
kau lemparkan bola ke jendela tetangga
Waktu kamu berumur 10 tahun
dia mengantarkanmu ke mana saja,
dari kolam renang sampai pesta ulang tahun…
sebagai balasannya…
engkau bermain asyik dengan temanmu
sampai tidak dengar panggilan orang tuamu…
Waktu kamu berumur 13 tahun
dia menyarankanmu untuk memotong rambut
karena sudah waktunya…
sebagai balasannya…
kau bilang “mama tidak tahu mode…”
Waktu engkau berumur 15 tahun
dia pulang kerja ingin memelukmu…
sebagai balasannya…
kau kunci pintu kamarmu
Waktu engkau berumur 18 tahun
dia menangis terharu ketika engkau lulus SMA…
sebagai balasannya…
kau berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi
Waktu engkau berumur 19 tahun
dia membayar semua kuliahmu
dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama…
sebagai balasannya…
kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang
biar nggak malu sama teman-teman
karena orang tuamu jelek
Waktu engkau berumur 20 tahun
dia bertanya “Dari mana saja seharian ini?”
sebagai balasannya…
kau menjawab “Ah cerewet amat sih”
mau tau urusan anak muda
Waktu engkau berumur 25 tahun
dia membantumu membiayai pernikahanmu…
sebagai balasannya…
engkau pindah ke kota lain
menjauhi orang tuamu
Waktu engkau berumur 30 tahun
dia memberimu nasehat
bagaimana merawat bayimu…
sebagai balasannya…
engkau katakan
“Sekarang zamannya sudah beda, Ma…”
Waktu engkau sudah jadi orang sukses
dia menelponmu untuk diantar ke acara syukuran
salah satu saudara dekatmu…
sebagai balasannya…
engkau jawab “Aku sibuk sekali,
Banyak kerjaan kantor, Ma…”
Waktu engkau berumur 35 tahun
dia sakit-sakitan sehingga
memerlukan perawatanmu…
sebagai balasannya…
engkau baca tentang pengaruh negatif orang tua
yang numpang tinggal di rumah anaknya
Dan hingga SUATU HARI
dia meninggal dunia dengan tenang…
dan tiba-tiba engkau teringat semua
yang belum pernah engkau lakukan…
dan itu menghantam
HATIMU bagaikan pukulan QODAM
Maka…
JIKA ORANG TUAMU MASIH ADA…
BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN
PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH
ENGKAU BERIKAN SELAMA INI


JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA…

INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA

YANG TELAH DIBERIKANNYA

DENGAN TULUS IKHLAS KEPADAMU…
DAN DOAKANLAH…
MOHONKANLAH KEPADA ALLAH
AMPUNAN BAGI KEDUANYA


“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”

(QS. Al Israa’:24)

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”
(QS. Ibrahim:41)

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”
(QS. Nuh:28)


Cobalah katakan pada dirimu, cobalah renungkan.
Katakanlah…
Saya ada karena kehendak Allah , saya dilahirkan oleh ibu saya, saya dididik agar menjadi anak yang berguna bagi keluarga, orang tua saya selalu mendidik saya dengan KASIH SAYANG.
Orang tua mencintai anaknya dengan sepenuh hati. Tak ada yang terlewatkan.

Marilah kita merenung…
Beberapa tahun lalu saat kita dikandung oleh orang tua, betapa bahagia mereka, mengharap anak yang akan lahir adalah anak yang berbakti dan selalu sayang kepadanya.
Tapi coba renungkan, apakah kita begitu?
Saat melahirkan kita, orang tua kita merasakan sakit yang amat sangat, menangis kesakitan, antara hidup dan mati.bahkan mungkin jika diberi pilihan oleh tuhan antara menyelamatkan nyawanya atau nyawa bayinya, pastilah ia akan memilih menyelamatkan bayiny, ibu memberikan kita asi waktu bay1, menahan derita menggendong kita seharian.
Tapi apa????apakah kita saat ini cuma melihat beliau dengan penderitaannya, mencaci makinya, melawannya, mengacuhkannya…
Coba renungkan…
Sekarang apa balasan kita?????
Saya juga pernah berkata yang tidak baik pada orang tua saya, membentak, kata-kata kasar,ejekan.hampir semua anak pernah melakukannya..
RENUNGILAH SEJENAK
Pernahkah kita tahu…
Setiap malam orang tua kita, ibu kita terbangun tengah malam dan menangis di bantalnya, menangis oleh kata kata kita yang terlalu menyakitinya????
Sadarkah kita saat kita membentak ibu kita, ternyata mereka sangat sabar, namun di belakang mereka merasakan perih di hati mereka, tangisan lirih.
Saat kita pergi meninggalkan mereka karena marah… orang tua kita sangatlah sedih.. mereka akan menyesali diri mereka, baikkah itu?
Coba renungkan anak mana yang mau melihat orang tua mereka menangis?
Mungkin kita tak pernah mau memikirkan kepedihan yang dirasakan oleh ibu kita.
Saat kita marah, saat kita meninggalkan rumah.. ibu kita akan menangis.
Baikkah itu?senangkah kalian?anak mana yang senang membuat orangtua mereka menangis, membuat orang tua merasa sangat tak berharga hanya karena kata – kata dan kelakuan anak mereka????
RENUNGKANLAH!!!!
Mungkin saat ini beliau masih ada, masih sehat. Dan saat ini mungkin kamu sedang menuntut pendidikan, jauh dari orangtua. yang membuatnya sedih
Cobalah perhatikan, tiap libur akademik saat bertemu orang tua kita, perhatikanlah… rambut mereka makin memutih… kulit mereka makin berkerut… sinar wajahnya makin meredup… masihkah kalian belum sadar??? Kata kata yang telah kita ucapkan yang kadang membuat mereka terbangun di tengah malam untuk menangisi kata kata kasar, bentakan itu, namun mengapa kita tak pernah menyadari. Mengapa kita tak mau minta maaf????
Ingatlah… tak ada yang menjamin bahwa ibu kita akan tetap ada mendampingi kita saat pulang… mungkin saat kita pulang kita masih bisa menemui ibu kita tersayang.
Tetapi rennungkanlah ketika kita pulang dan yang kita temui adalah sosok yang telah terbujur kaku, kita tak lagi merasakan kasih sayangnya, yang kita temui hanyalah sebuah nisan…
masihkah kita ingin menyakiti hati mereka, membuat mereka menangis karena anaknya yang selalu membentaknya, meninggalkannya dalam kemarahan??
Mungkin saat ini kita sedang bahagia, jauh dari orang tua kita? Tapi pernahkah kita berpikir, apakah orang tua saya juga disana bahagia?

pengorbanan orang tua untuk kita

Pengorbanan yang Dilakukan Orangtua Untuk Kita

TUESDAY, 24 SEPTEMBER 2013

Total View : 2678 times


Setiap kejadian lahirnya seorang anak merupakan sebuah mujizat luar biasa bagi orangtua. Mungkin saja anak itu dibuahi tanpa keinginan orangtuanya, meskipun juga ada yang akhirnya diaborsi, namun pengalaman mereka sebagai orangtua takkan terlupakan bagi anak yang dilahirkan. Di saat itu orangtua mengambil keputusan untuk mengorbankan segalanya bagi sang anak. Apa saja yang biasanya dikorbankan oleh orangtua untuk anak-anaknya?
Kesakitan
Ibu kita mengandung kita selama sembilan bulan, sekitar 275 hari siang dan malam di dalam rahimnya. Kita terlindung aman dan terjamin di sana. Kita berbagi sukacita dan kemarahannya, kesedihannya dan kekuatirannya. Peristiwa kelahiran kita pasti menyebabkan ketakutan dan kesakitan yang begitu besar baginya. Namun mereka rela kesakitan untuk melahirkan kita.
Korbankan Perasaan
Seringkali ayah ibu kita harus menahan malu untuk mencari nafkah hidup. Mereka mungkin bahkan menjadi orang rendahan asalkan bisa memberi nafkah keluarganya. Terkadang bukannya menghargai hasil mereka, kita selalu mengeluh. Uang jajan yang sedikit, pakaian yang sudah terlihat kusam, makanan yang selalu itu-itu saja, atau mungkin kehidupan yang miskin. Belum lagi dengan kelakuan kita yang kadang bandel, mereka harus korbankan perasaan buat kita.
Korbankan Uang
Orangtua adalah contoh kasih yang paling tidak egois di dunia ini. Mereka yang susah-susah cari uang, semuanya mereka gunakan untuk kepentingan keluarganya, anak-anaknya agar dapat hidup, pendidikan yang layak, dan kebutuhan. Contohnya ayah Sushma Verma ini. Meski hanya pekerja konstruksi dan mereka tinggal di sebuah kamar apartemen di Lucknow, ayahnya rela menjual satu-satunya tanah mereka di sebuah desa di Uttar Pradesh agar Verma bisa sekolah setinggi-tingginya.
Korbankan Tenaga
Tenaga orangtua kita yang mereka keluarkan terlihat sejak kita pertama kali lahir. Entah ayah ataupun ibu seringkali bangun tengah malam karena mendengar kita bangun. Setelah itu, mereka harus menyiapkan segala keperluan kita. Belum lagi kalau kita sakit, mereka harus berjaga. Setelah itu, mereka menemani kita bermain, mengantar kita ke sekolah, bermain bersama kita.
Korbankan Diri
Summar Ruelle adalah seorang ibu muda berusia 36 tahun yang mempunyai anak berusia 3 tahun. Ibu ini didiagnosis menderita kanker payudara. Sebelas hari kemudian, anaknya didiagnosis dokter mengidap leukemia. Dia yang tadinya sudah mengatur jadwal dengan dokter untuk menangani kasusnya, langsung memutuskan untuk menangani anaknya lebih dahulu. Dia korbankan dirinya untuk pengobatan sang anak.
Itulah besarnya pengorbanan orangtua untuk anaknya. Mereka bahkan rela kehilangan nyawa asalkan anaknya selamat. Seorang wanita Jepang menjadi contohnya. Saat Jepang dilanda gempa, dengan tubuhnya dia melindungi si buah hati. Ternyata bayi tersebut masih hidup di bawah tubuh ibunya yang menudunginya. Bersyukur untuk orangtua kita, yang meskipun memang punya kekurangan, tapi mereka selalu bertekad memberikan yang terbaik buat kita.

sosok pejuang hidup kita yg sebenarnya

akwatuna.com - Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa,  begitulah penggalan lagu populer anak-anak berjudul “Kasih Ibu”.  Mengingatkan kita akan besarnya kasih sayang yang diberikan orang tua, terutama Ibu. Sebagai seorang anak, seberapa besarkah kasih sayangmu?
Ibu. Sosok seorang wanita dewasa yang luar biasa. Ia melahirkan kita dengan segenap tenaga, berjuang agar bisa bertemu dengan makhluk kecil impiannya di dunia, yaitu kita. Ibu adalah wanita kuat. Selalu ada di samping kita dalam kondisi apapun. Mengutamakan segala keselamatan diri kita dibanding keselamatan dirinya sendiri. Dengan keberaniannya ia siap sedia berdiri di samping kita dalam menghadapi kejam dan kerasnya, perih dan pahitnya dunia. Ibu adalah wanita yang lembut. Sebagai pendengar dan penasihat segala keluh kesah kita. Dengan kelembutannya ia membelai rambut kita ketika menangis, memeluk ketika kesepian, dan mencium ketika letih dan butuh kehangatan kasih sayang.
Ibu mengajarkan segala kebaikan dan pelajaran lewat tutur kata lembutnya. Lewat ibu lah, kita bisa mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, seperti kata pepatah, Surga di bawah telapak kaki Ibu. Lalu, bagaimana dengan Ayah?
Ayah sosok yang harus kita hormati. Ia selalu berjuang demi kebahagiaan kita. Ia lah yang mencari nafkah demi kebutuhan keluarga. Lewat tangannya, rezeki dari Tuhan mengalir. Ayah juga sebagai pelindung kita. Sungguh Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada keluarganya. Ayah selalu tahu apa yang terbaik dan mengambil langkah terbaik untuk keluarganya. Betapa besar jasa dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Betapa besar perjuangannya untuk mewujudkan semua hal yang keluarganya inginkan, terutama yang anaknya inginkan. Walau terkadang sulit diungkapkan dengan kata-kata, tetapi Ayah selalu berusaha menunjukkannya, bahwa ia sangat sayang kepada kita.
Begitulah kedua orang tua kita. Ingatkah Anda? Sewaktu kecil kita sering mendengar orang berkata, “Ayah atau Ibu marah, karena sayang kepada kita”. Ya, itu memang benar. Selalu ada alasan dibalik kemarahan mereka. Dulu, selayaknya masih berada di usia dini, kita mudah menyerap apa kata orang lain. Apalagi orang tua kita sendiri. Jika mereka marah, kita akan menuruti apa yang mereka mau, sehingga mereka tidak memarahi kita lagi. Kini, kita sudah beranjak dewasa, pernahkah kita berpikir, jalan pikiran kita dan orang tua mulai berbeda?
Seiring berjalannya waktu, kita sebagai seorang anak pastilah akan beranjak dewasa. Segala pengaruh lingkungan yang akan kita dapatkan semakin meluas. Semua itu akan membuat kita membentuk kepribadian kita sendiri. Beruntunglah kepada anak yang mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya, sehingga ia tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Namun, terkadang anak yang bukan berasal dari broken home pun memiliki banyak masalah dengan orang tuanya sendiri. Proses pendewasaan menjadi salah satu faktor utamanya.
Setiap orang mengalami proses pendewasaan yang berbeda-beda. Hasil dari proses itu pun tentunya akan berbeda-beda pula. Ada anak yang lambat untuk menjadi dewasa, ada juga yang justru mengalami dewasa sebelum waktunya. Seorang anak yang telah dewasa akan membentuk sebuah pemikirannya sendiri, dan itulah yang terkadang menjadi bibit dari sebuah perdebatan antara orang tua dengan anak. Adu mulut pun tidak bisa terelakkan lagi. Apalagi, jika kondisi ini dihadapi oleh seorang anak yang memiliki banyak kegiatan di luar rumahnya. Terkadang, suasana keluarga harmonis yang jarang dijumpainya, membuatnya menjadi tidak betah di rumah.
Selain itu, faktor “kekanakan” orang tua pun menjadi alasan kuat seorang anak merasa jenuh di rumah. Seseorang akan mengalami fase kanak-kanak lagi setelah berusia lebih dari 50 tahun. Semakin tua, seseorang akan semakin membutuhkan perhatian orang terdekatnya, terutama dari anak-anaknya sendiri. Seperti halnya anak-anak kecil yang menginginkan perhatian dari orang tuanya. Sikap itulah yang terkadang membuat anaknya sendiri kesal. Maka, seorang anak harus benar-benar sabar dalam menghadapi kondisi seperti itu.
Orang tua kita selalu sabar dalam membesarkan kita dulu. Merawat dengan setulus hati, berharap kita akan tumbuh menjadi anak yang dewasa dan berguna bagi bangsa dan negaranya sendiri. Akan tetapi, mengapa justru kita sendiri yang setelah dewasa, merasa lelah untuk menghadapi sikap orang tua yang semakin kekanak-kanakan? Hakikatnya, kita sebagai anak, seperti apapun orang tua kita, kita harus tetap menghormati dan menyayangi mereka. Bagaimana pun juga, mereka tetap orang tua kita.
Ingat kisah Malin Kundang? Pemuda dari desa Minang yang merantau ke Ibukota untuk mengadu nasibnya, kemudian bertemu wanita kaya yang membuatnya menjadi seorang anak durhaka kepada Ibunya sendiri. Kisah itu merupakan salah satu contoh kisah yang seharusnya membuat kita sadar, jangan pernah melawan atau durhaka kepada orang tua. Bahkan, di dalam agama pun diajarkan, berkata “Ah” saja sudah termasuk melawan orang tua. Namun, akuilah bahwa berapa banyak orang yang mengaku tidak pernah berkata “Ah” kepada orang tuanya sendiri? Sangat sedikit, atau bahkan tidak ada sama sekali.
Sulit memang untuk menghindari sikap itu. Namun, ada satu hal yang dapat memperbaikinya. Teruslah menyayangi orang tua kita dengan sepenuh hati, segenap jiwa. Bersabarlah dalam setiap sikap mereka yang menurut kita tidak sesuai dengan harapan. Ketahuilah, seperti apapun kita, mereka selalu inginkan yang terbaik untuk kita. Ingat, seburuk-buruknya mereka, mereka tetaplah orang tua kita. Akan lebih baik untuk tidak menunjukkan wajah sedih atau kesal kepada mereka, karena sesungguhnya itu membuat hati mereka perih. Mereka selalu berusaha menunjukkan wajah berseri-serinya tiap kali menatap wajah kita. Tetapi ketahuilah, di balik wajah tampan dan cantik itu, mereka menyimpan segala rasa pedih, lelah dan letih mereka selama berjuang membesarkan kita. Sadarilah, kerutan di wajah mereka bukan sekadar pertanda penuaan usia mereka, tapi itulah tanda bukti kasih sayang mereka. Tidak ada salahnya, jika kita sekali saja menyempatkan diri untuk memeluk mereka, membelai wajah dan menatapnya sambil berkata, “Aku sayang kalian, Ayah, Ibu.”

bukti cinta untuk ayah dan bunda

Bukti Cinta Untuk Ayah dan Bunda

cinta orang tua kita
Cintai Orang Tua Kita
Siapakah di antara kita yang tidak memiliki orang tua? Pasti jawabannya tidak ada! Bagaimana pun keadaan seseorang, pastilah ia memiliki orang tua, meskipun kenyataan memang tidak selalu berkata sama. Yang jelas, apapun keadaannya, seseorang tidak akan terlahir tanpa perantara kedua orang tua.
Menjadi sebab keberadaan anak tentu merupakan jasa yang besar bagi orang tua. Terlebih keduanya telah merawat kita dengan penuh kasih sayang. Islam pun sangat menjunjung tinggi hak-hak orang tua. Islam mengajarkan kita untuk berbakti kepada keduanya dan melarang keras mendurhakai keduanya.
Sebagai seorang Muslim yang baik, tentu kita menyadari betapa penting dan mulianya berbakti kepada orang tua dengan melaksanakan etika, adab dan akhlak-akhlak mulia sesuai petunjuk Islam sebagai bukti cinta kita pada keduanya. Di antara adab-adab terhadap orang tua yang harus diketahui dan diamalkan adalah sebagai berikut:
1. Senantiasa mendoakan kebaikan dan memohon ampunan bagi kedua orang tua, baik ketika keduanya masih hidup maupun telah tiada.
Adab ini telah diperintahkan oleh Alloh dalam firman-Nya:
Dan ucapkanlah: “Wahai Robbku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”(QS. Al-Isra’ [17]: 24)
2. Menasihati keduanya agar senantiasa bertakwa kepada Alloh dengan nasihat yang lembut dan penuh kasih sayang. Jika harus membantah, maka bantahlah dengan santun.
Ketika orang tua kita melakukan kemaksiatan, jangan menegurnya dengan cara membentak. Perhatikanlah bagaimana teladan Nabi Ibrahim ketika menasihati ayahnya yang melakukan kesyirikan. Alloh berfirman:
Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku,mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” (QS. Maryam [19): 42)
Mengagumkan, Nabi Ibrahim bahkan menggunakan kata-kata yang paling lembut, yang menunjukkan kasih sayang kepada ayahnya, meskipun sang ayah telah terjatuh ke dalam dosapaling besar, yaitu kesyirikan.
3. Berbicara kepada kedua orang tua dengan penuh kelembutan dan tidak mengucapkan kata-kata yang menyakiti keduanya.
Mengenai hal ini, Alloh berfirman: “Maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isro’ [17]:23)
Apabila perkataan “ah” saja telah dilarang, maka semua bentuk perkataan yang maknanya lebih kasar dari itu, tentu lebih dilarang.
4. Selalu menaati perintah orang tua di dalam semua perkara selain kemaksiatan kepada Alloh. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam bermaksiat kepada Alloh .
Alloh berfirman: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik….” (QS. Luqman [31): 15)
5. Bersikap tawadhu’ (rendah diri) di hadapan keduanya.
Tidak selayaknya kita berlaku sombong kepada orang tua di saat telah memperoleh kesuksesan atau mempunyai jabatan. Sehebat apapun kita saat ini, ketika dilahirkan dalam keadaan yang lemah dan sangat membutuhkan perawatan dari keduanya. Kedua orang tualah yang merawat kita dengan kasih sayang, memberi makan, minum, pakaian, pendidikan dan hal-hal yang lainnya.
6. Senantiasa menjaga kehormatan, nama baik, kemuliaan, serta memelihara harta keduanya.
Jadi, jangan mudah mengambil sesuatu milik keduanya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
7. Jangan pelit alias bakhil kepada kedua orang tua dalam memberi.
Karena pada dasarnya semua harta kita adalah milik orang tua kita. Alloh memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menafkahi kedua orang tua sesuai dengan kemampuan kita. Alloh berfirman: “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kalian nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim....” (QS. al Baqoroh [2]: 215)
8. Sigap dalam memenuhi panggilan orang tua walaupun ketika sedang mempunyai urusan, bahkan meski sedang menunaikan sholat sunnah.
Pernahkah mendengar kisah Juraij sang ahli ibadah dari Bani Israil yang diriwayatkan oleh Imam Muslim? Ia seorang ahli ibadah yang dituduh berzina dengan seorang pelacur lantaran doa dari ibunya. Pasalnya, sang ibu kesal karena Juraij lebih memilih sholat sunnah daripada memenuhi panggilannya. Ibunya kemudian mendoakan agar Juraij tidak meninggal sebelum ditampakkan baginya suatu ujian.
Dari hal ini, kita harus waspada dan menghindari segala perbuatan yang memancing doa yang buruk dari orang tua, terkhusus doa ibu.
 9. Secara urutan prioritas, orang tua yang paling berhak untuk dimuliakan adalah ibu kita, kemudian bapak kita.
Inilah yang diperintahkan oleh Rosululloh. Diriwayatkan dari Abu Hurairah . bahwa: Datang seorang laki-laki kepada Rosululloh , kemudian berkata, “Siapakah orang yang paling berhak untuk saya berbakti kepadanya?” Maka beliau menjawab, “Ibumu. “Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu. “Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab lagi, “Ibumu. “Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Baru kemudian bapakmu.”(HR. al-Bukhori dan Muslim)
10. Jangan mencela atau melaknat keduanya.
Apakah mungkin ada orang yang berakal dan beriman begitu tega melaknat orang tuanya sendiri? Menurut akal sehat, hal tersebut tidak mungkin terjadi kecuali bagi mereka yang hati nuraninya sudah rusak. Akan tetapi, seseorang bisa secara tidak langsung mencela atau melaknat orang tuanya sendiri. Bagaimana? Yaitu ketika ia mencela atau melaknat ibu bapak orang lain. Sehingga orang lain akan membalas mencela ibu bapaknya.
Hal ini sudah diwanti-wanti oleh Rosululloh dengan sabdanya:
Sesungguhnya di antara dosa besar adalah seseorang melaknat orang tuanya sendiri —kemudian para sahabat merasa heran- lalu ditanyakan kepada beliau: “Bagaimana seseorang akan melaknat kedua orang tuanya?” Maka beliau menjawab: “Yaitu dia mencaci ayah orang lain kemudian orang tersebut mencaci ayahnya, dan ia mencaci ibu orang lain, kemudian orang tersebut mencaci ibunya.”(HRal-Bukhari dan Muslim)
11. Senantiasa mengunjunginya.
Jika kita telah berkeluarga dan hidup terpisah, kunjungilah mereka di saat masih hidup dan ziarahilah ketika mereka telah wafat. Bershodaqohlah atas nama mereka dan banyaklah berdoa bagi mereka berdua.
12. Tidak mendurhakai keduanya dan memancing kemurkaannya.
Alloh dan Rosul-Nya telah memberikan ancaman yang keras baik di dunia maupun akhirat, bagi siapa saja yang berani mendurhakai kedua orang tua. Sedangkan di antara azab yang dipercepat di dunia adalah bisa jadi anak-anak kita pun akan berbuat kedurhakaan sebagaimana kita telah mendurhakai orang tua.
Untuk menghindari kedurhakaan kepada orang tua di antaranya adalah dengan mentaati segala perintahnya selama bukan dalam hal kemaksiatan, tidak berkata dan berbuat kasar, tidak menyakiti fisik maupun psikisnya, berdusta, merendahkan harga diri dan kehormatannya, mengambil hartanya secara semena-mena serta akhlak-akhlak buruk lainnya yang harus dijauhi. Begitu besarnya dosa durhaka kepada orang tua, Rosululloh sampai menyebutkannya di urutan kedua setelah dosa syirik.
Diriwayatkan dari Abdulloh bin Umar bahwa datang seorang Arab badui dan bertanya kepada beliau,“Wahai Rosululloh, apakah  yang termasuk dosa-dosa besar itu?” Beliau menjawab, “Menyekutukan Alloh. “Ia bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Kemudian mendurhakai kedua orang tua. (HR. al-Bukhori)
Pembaca yang budiman, inilah sebagian kecil di antara adab-adab kepada orang tua. Semoga yang sebagian kecil ini bisa mewakili yang lainnya. Kita berharap dengan menjalankan adab-adab ini, akan menjadi pelindung bagi kita dari kekasaran hati, kekeringan perasaan, kedurhakaan dan pintu kemaksiatan kepada orang tua. Dan yang paling utama adalah, akhlak ini akan membantu membukakan pintu-pintu surga bagi kita. Aamiin. Wallahu a’lam.

gambar keindahan menara eifel

                               

keindahan menara eifel

Menara Eiffel merupakan sebuah bangunan menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine di Paris. Menara Eiffel ini dinamai sesuai dengan nama perancangnya, insinyur Gustave Eiffel. Menara ini telah menjadi ikon global Perancis dan salah satu struktur terkenal di dunia. Struktur ini dibangun antara 1887 dan 1889 sebagai pintu masuk Exposition Universelle, Pameran Dunia yang merayakan seabad Revolusi Perancis. Eiffel sebenarnya berencana membangun menara di Barcelona, untuk Pameran Universal 1888, tapi para pihak yang bertanggung jawab di balai kota Barcelona menganggapnya aneh dan mahal, dan tidak cocok dengan kota itu. Setelah penolakan Rencana Barcelona, Eiffel mengirim drafnya kepada pihak yang bertanggung jawab untuk Pameran Universal di Paris, dimana ia membangun menaranya setahun kemudian, yaitu 1889. Menara inidiresmikan tanggal 31 Maret 1889, dan dibuka tanggal 6 Mei.
Selama masa pembangunan menara ini mendapat kritik dari masyarakat karena adanya satu orang pekerja yang meninggal dunia dan menara besi yang menjulang tinggi ini dianggap mengganggu pandangan mata. Surat kabar harian di Paris dipenuhi surat kritik dari komunitas seni di Perancis. Namun seiring perjalanan waktu ternyata Menara Eiffel menjadi tujuan utama wisatawan yang melancong ke Paris dan mendatangkan keuntungan finansial hingga sekarang ini.Lebih dari 200.000.000 orang telah mengunjungi menara ini sejak pembangunannya tahun 1889, termasuk 6.719.200 orang di tahun 2006 menjadikannya monumen bertarif yang paling banyak dikunjungi di dunia.
Saat ini Menara Eiffel Paris sudah memperingati hari jadinya yang ke 121 tahun dengan menggelar pertunjukan cahaya spektakuler sehingga menambah keindahan langit malam kota Paris. Setiap malam para pengunjung kota Perancis dapat menikmati pertunjukkan cahaya gemerlapan selama 12 menit. Dalam rangka peringatan hari jadi ini sekitar 250 ribu bola lampu menerangi tubuh menara besi dan menimbulkan kilatan cahaya gemerlapan di sekitar menara Eiffel.
Dalam acara pembukaan pertunjukkan aneka warna cahaya berlangsung setiap setengah jam dengan paduan musik kontemporer sehingga menyajikan suasana spektakuler langit kota Paris di malam hari. Bertepatan dengan hari jadi ikon kota Paris tersebut, salah satu industri otomotif raksasa Perancis juga menggelar peringatan yang ke-90 tahun berdirinya industri otomotif di negeri ini.
Di siang hari kota Paris pun menyelenggarakan festival rakyat. Festival rakyat penuh kegembiraan ini saling melempar bola salju sambil berperahu menyusuri Sungai Seine yang membelah kota Paris. Pesta rakyat penuh canda dan tawa ini bertujuan untuk melupakan resesi ekonomi dan ancaman pemanasan global.
Festival rakyat Perancis yang berlangsung di jantung ibu kota Paris diselenggarakan oleh resor wisata ski Perancis guna mengajak masyarakat melupakan sejenak resesi dan mengajak bergembira bersama. Suasana pesta yang dimeriahkan musik rakyat berlangsung saat hujan gerimis seperti layaknya festival musim dingin. Namun siapa sangka ternyata bola-bola salju ini tiruan belaka. Kendati demikian tak mengurangi kemeriahan pesta rakyat yang sedang berlangsung.
Atraksi jenaka peserta tetap saja mengundang perhatian dan menghibur para wisatawan manca negara yang sedang menikmati jernihnya air Sungai Seine. Tentu saja atraksi ini dikemas dngan tujuan menghibur rakyat Paris juga menghibur pengunjung yang kebetulan turis asing yang sedang menikmati keindahan kota Paris di siang hari.
Sebagai bangunan global, Menara Eiffel muncul dalam berbagai media seperti film, permainan video, dan acara televisi. Bahkan sekarang Menara Eiffel ini menjadi tempat romantis paling populer yang dikunjungi orang-orang dari seluruh dunia.

gambar taman sakura di jepang